Obat Anti Korona dan Penyakit Kronis Lainnya

Buka TV korona..... 

Keluar rumah takut korona.....

Ketemu orang, bersin sedikit.... lari... koronaaa.....

Sepertinya akhir - akhir ini korona jadi makhluk tak berkaki yang mengerikan bagi kita. Bentuknya tidak kelihatan... tetapi menakutkan... mengerikan... membuat semua orang menjadi gempar.. Koronaaaaaa......

Yang paling membuat kita jengkel dengan korona adalah larangan untuk keluar rumah. Gila ajaa... Saya sebagai extrovert natural benar - benar merasakan pusingnya baring - baring di atas tempat tidur... dengan kejadian beberapa kali HP jatuh kena muka... rasa - rasanya berat sekali tidak bertemu dengan orang - orang. 

Saya yakin juga beberapa dari kita mungkin kesal dengan situasi ini, dilarang keluar lah, yang pacaran juga hanya online... yang jomblo bagaimana mau cari pacar kalau di rumah aja... atau mungkin kamu punya rencana travelling terhambat (jalan - jalannya dari dapur ke kamar aja). 

Ada yang sudah lulus SMU (ciee lulus giveaway) sudah jahit baju wisuda tetapi kena zonk, atau mungkin yang kuliah stress dengan tugas online menumpuk tetapi internet lambatnya minta disiram air keras? 

Banyak hal yang bisa kita keluhkan di hari - hari seperti ini. Mengeluh menjadi hal yang tidak sadar seringkali muncul di dalam hati kita, 

'Hadeuh.... di rumah aja.....'

'Hadeuh... di kamar aja.....'

'Hadeuh... ini hari apa yah?.... sama aja...'

Mengeluh, mengomel plus rasa takut berlebihan... Saya rasa itu penyakit yang lebih mengerikan dari korona itu sendiri. Hati menjadi layu, dan kita lupa seperti kata Firman, 

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. 

Firman itu sepertinya hanya menjadi rhema sesaat yang akhirnya hilang disikut korona. Saya sendiri merasakan hal itu beberapa waktu yang lalu... Kegiatan yang biasanya ramai, setiap minggu biasanya sibuk, tetapi sekarang benar - benar kosong karena gereja tidak ada. Mengeluh dan mengeluh menjadi jalan pintas untuk melampiaskan rasa bosan dan amarah ini. 

Hingga akhirnya saya membersihkan rumah, dan menemukan barang - barang waktu saya masih SMU, kuliah, dan juga sekolah misi. Saya baru sadara, banyak yang saya bisa syukuri dari kehidupan ini. 

Saya mulai kilas balik kehidupan saya, dan saya bersyukur Tuhan membawa iman saya sampai sejauh ini berada di posisi sekarang dan bagaimana kalau hari ini masih ada, semua karena anugerah-Nya. Saya menyadari... obat untuk mengatasi penyakit yang lebih mengerikan dari Korona adalah 

BERSYUKUR. 

Waktu bersyukur saya merasa sepertinya beban ini terangkat, ketakutan memudar dan rasa aman dari Tuhan mulai datang dan menghinggapi saya secara pribadi. Saya mulai menuliskan hal - hal yang saya syukuri dari korona ini: 

1. Bisa punya waktu yang unlimited bersama keluarga (tidak buru - buru untuk selesai seperti biasanya, walaupun kadang berantem juga sih sama adik) 

2. Bisa mendengar pujian dan khotbah dari gereja yang digaungkan di udara (Jadi di Toraja, gerejanya mulai pakai TOA untuk share firman Tuhan dan memutar lagu rohani di jalan - jalan) 

3. Lebih menghargai alam, gunung, langit, indahnya bintang yang masih bersinar di malam hari. (Sebelumnya karena sibuk, berlalu begitu saja, tanpa saya pernah menghargai indahnya alam di sekitarku)

Ayok, sesama domba-Nya Tuhan, kira - kira apa yang bisa kita bisa syukuri dari korona, tulis di kolom komentar yak :)


Bersyukurlah karena hanya itu penguatan iman dan kehidupan kita. Bersyukurlah karena melalui bersyukur kita melakukan kegiatan yang bertolak belakang daripada mengeluh dan lewat bersyukur bukti bahwa kita masih terus mempercayai bahwa Dia adalah Allah yang baik. 


Comments

Popular posts from this blog

#NewLife: Part-Time Job

Iri Bilang Boss (feat Kekeyi)

Burn me Lowly