Joker: Entah Apa Yang Merasukimu
Film Joker menjadi begitu fenomenal hari – hari ini. Jujur saya sudah lama menanti film ini. Saya salah satu penggemar DC Universe, saya melihat bahwa film DC, somehow lebih gelap dan lebih nyata dibandingkan dengan marvel (marvel vs DC fight!). Sehingga akhirnya, Pembukaan film Joker beberapa minggu yang lalu saya ikut nonton di bioskop.
Setelah menonton film ini jujur saya lumayan mengalami perenungan yang dalam. Saya keluar dari mall, duduk di pinggir trotoar, merenung kedai burger pinggir jalan sambil meminum es thai tea favorit saya. Saya mulai menatap ke langit dan bertanya – Tanya…
Siapa yang salah Tuhan…. ? Apakah Masyarakat disekitar yang bertindak keterlaluan kepada Joker? Atau apakah Joker sendiri karena dia justru memilih untuk membunuh orang? Tapi kan masyarakat yang membentuk dia seperti itu? Tapi membunuh juga itukan salah…..?
Pertanyaan ini mulai merasuk dan membuat saya terus berpikir dan bingung….. Saya terus bertanya kepada Tuhan… Orang disekitar Joker salah karena terlalu membully Arthur Fleck (Si Joker) padahal mereka tau bahwa dia adalah orang dengan kondisi mental yang kurang bagus, bukannya ditolong malah dibully…. Tapi si Arthur juga salah karena ada nyawa yang dikorbankan bahkan karena tindakannya akhirnya kepahitan itu mulai menjalar bahkan ke masyarakat dan mengakibatkan kerusuhan yang begitu besar. Masyarakat yang merasa ‘terbully’ oleh keadaan orang – orang yang kaya menganggap nasib mereka sama dengan Joker yang membunuh 3 orang pekerja di perusahaan Wayne (bapaknya batman).
Saya melihat pada akhirnya bukan siapa yang salah di dalam kasus ini. Tetapi manusia menjadi kalah. Baik Joker maupun masyarakat, keduanya kalah, dan ada satu semangat yang muncul, yaitu semangat balas dendam. KEPAHITAN yang menang di dalam keadaan ini. Kepahitan merasuki setiap pribadi + keadaan mental yang kurang stabil + kemarah masyarakat = kekacauan yang besar.
Memang film ini jadi bagus agar kita lebih sadar dengan sekeliling kita tentang penyakit mental dan kita memperlakukan orang sekitar dengan baik, tapi ada tren negative juga muncul dari film ini, semua merasa bahwa mereka terkena penyakit mental dan mulai membenarkan tindakan negative mereka.
‘Saya jadi marah kan karena saya sering dimarahin juga sama orang lain… gapapa kan?’
‘Saya malas begini kan karena saya sering dikata-katain sama orang lain.. gapapa kan?’
‘Saya belum mandi 3 hari seperti ini karena saya juga tidak dihargai orang lain… gapapa kan?’
Menjustifikasi (Kalau tidak tau artinya boleh google kawan) tindakan kurang terpuji karena keadaan di sekeliling kita menurut saya itu adalah tindakan yang salah. Misalnya,
‘Gapapa kan pejabat koruptor, kasihan hidupnya mungkin miskin di masa lampau…’
Jadi ada 3 hal dan mungkin respon yang bisa kita lihat sikapi dari film Joker:
1. Di dalam masyarakat yang luas ada yang jahat, tapi tidak semuanya….
Kita harus sadar begitu banyak orang di dalam masyarakat, dengan begitu banyak pikiran dan juga motivasi. Kita tidak bisa mengerti apa yang ada di hati manusia. Seperti kata pepatah, dalamnya laut bisa diukur, tetapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu?
2. Jadilah Manusia/Masyarakat yang baik
Kalau kamu menyadari bahwa banyak yang jahat, jadilah yang baik. Kalau kamu mengetahui bahwa kejahatan/kepahitan bisa menghancurkan pribadi seseorang, apalagi mereka yang terkena penyakit mental, jadilah manusia yang baik.
Dan ini pendapat pribadi saya, kita manusia tendensi dan arah pikiran kita itu lebih kea rah yang jahat, oleh karena itu kita butuh standard moralitas yang benar dan sempurna. Disinilah saya meyakini bahwa standar moralitas yang baik itu datangnya bukan dari dalam diri manusia, tetapi dari suatu kuasa yang jauh lebih bijak dan jauh lebih dahsyat daripada manusia, yaitu TUHAN. Pengenalan akan Tuhan dan standar moralitasnya akan menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik menurut saya. Yang dimana kita bisa gali di dalam Alkitab kita.
(Amsal 1:7 Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina Hikmat dan didikan)
3. Melampiaskan kepahitan dengan kejahatan hanya akan memperparah keadaan hati kita yang tidak bersih
Joker dengan segala kepahitannya setelah membunuh 3 orang di atas kereta, dilanjutkan dengan dia membunuh mantan temannya di rumahnya sendiri, setelah itu membunuh Murray, dan di akhir cerita membunuh sang psikolog (Kemungkinan besar yah, dengan asumsi bahwa sepatunya itu penuh dengan darah). Dan akhirnya Joker menjadi penjahat yang besar dan terus membunuh orang – orang yang tidak ia sukai.
Saya mengambil kesimpulan bahwa kepahitan tidak bisa disembuhkan dengan perbuatan yang jahat. Itu hanya akan menambah dosis kepahitan kita. Kemarahan kita ke orang tua, teman ataupun orang di sekitar kita tidak bisa disembuhkan dengan nonton video porno misalnya atau bahkan dengan minuman keras dan rokok. Atau kita mungkin menyimpan dendam, marah – marah di social media, mungkin juga ada yang berniat bunuh diri. Itu semua akan menambah kemarahan kita.
Semua berada di pikiran kita. Ke 5 panca indera kita (Penglihatan, pendengaran, gerak, penciuman dan pengecap) adalah yang paling mempengaruhi gaya berpikir kita. Seperti lagu entah apa yang merasukimu…. Biarlah kita rasuki pikiran kita dengan hal – hal yang baik.
Filipi 4: 8
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci 1 , semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Comments