#NewLife: Part-Time Job
Hello cumiers, udah lama banget gue gak ngepost. Hal ini dikarenakan banyaknya perubahan yang terjadi dalam hidup gue (atau karena gue malas aja). Belakangan hidup gue dipenuhi dengan berapa kesibukan. Gue balikan lagi sama mantan gue, ASSIGNMENT.....Tapi bukan Assignment yang pengen gue ceritain, baru dipikiran aja bikin otak gue mules. Gue ingin bercerita tentang part time job. nggg, tulisannya part-time apa part time yah, tunggu gue google doloooo...
..
Part-time job. Definisi part-time job menurut kamus gue adalah suatu pekerjaan yang setengah - setengah dan maksa banget. Mau dibilang susah, tapi gak terlalu susah; capek, juga gak terlalu capek. Tapi kadang gue capek ampe kebangetan dan merasa bahwa gue gak maksimal di tempat kerja. Tapi uang yang dihasilkan sih lumayan, lumayan meringankan beban orang tua gue.
Gue bekerja di salah satu restoran terkemuka di Australia dan bahkan dunia. Restoran ini memiliki ratusan cabang di seluruh Australia dan mungkin mencapai ratusan ribu di seluruh dunia. Bahkan restoran ini juga sudah membuka beberapa cabang di Indonesia. Hebat bukan !!!, Iya, gue kerja di McDonald... *DanSejenakTerdiam*.
Sebenarnya tujuan gue melakukan part-time job adalah semata - mata untuk memenuhi kepuasaan badani gue (okay, that's sounds so wrong), dalam hal ini makanan. Asal lu tau aja yah, harga secangkir kopi disini sekitar $3.50, kalo di convert ke rupiah harganya itu 30.000 rupiah. Di Indonesia 30 ribu mungkin gue udah bisa makan siang + cemilan pisang molen atau tahu isi. Lah disini hanya seharga kopi small size... Gila!!!! Bisa - bisa gue mati kelaparan !!!. Gue bukan tipikal orang yang pelit, hanya saja perbandingan harga yang besar membuat gue berpikir sepuluh kali hanya untuk membeli secangkir kopi. Gimana gue mau beli makanan yang lain, bisa - bisa gue kena busung lapar dulu baru beli makanan (kebayang gak seorang Oby busung lapar). Awalnya gue ragu, karena gue sama sekali gak ada pengalaman untuk kerja kasar gini. Selama gue di Indo, istilah kasarnya dah, sampe - sampe celana dalam gue juga pembantu yang cuciin. Dan sekarang gue pengen kerja ngangkat - ngangkat bahan makanan, masak, nyapu, ngepel, muastahail !!! Tapi demi hidup di Australia, gue rela melakukan pekerjaan itu.
Gue ingat hari pertama kerja, gue dimarahin habis - habisan. Gerakan gue super lambat membuat semua pesanan yang datang terbengkalai. Kalau diibaratkan gerakan gue itu sama seperti video slow motion super selow di youtube dan diakses pake modem yang bentar lagi koutanya abis. Gimana gue gak selow, pertama bahasa Inggris mereka pakai Aussie accent, which is gue (yang pada saat itu) kagak ngerti (sekarang aja masih samar - samar).
Jadi waktu itu keadaannya lagi rame dan sibuk buanget membuat kitchen benar - benar berantakan. Dan disaat yang tidak tepat, gue disuruh ama bos, yang notabene adalah bule untuk ngambil lap di atas sebuah meja. Namun karena telinga gue made in Indonesia, terjadilah kejadian yang koplak ini,
Si Bule: 'Oby could you please'........ *grookkk klukklulkllulkul* (selebihnya terdengar seperti suara babi keselek knalpot racing, gak jelas man)
Gue: Pardon me?
Si Bule : 'Could you please bring me Clotzzz* '..... *Grook klululululklk* (udah mendingan tapi tetep gak jelas)
Gue, 'What? Closet?, do u mean u need to go to the toilet?, kloset? pee place pee place'
Si Bule: *Keluarin Bumerang*
*NB:Lap = Clothes
Gak tau apa karena si bule udah gondok ngejelasin gue pake kata - kata, dia mulai pakai bahasa nunjuk - nunjuk. Iya bahasa yang hanya mengandalkan kemampuan imajinasi orang yang ditunjuk. Dalam kasus ini orang yang ditunjuk itu adalah gue. Sekali lagi tubuh gue ini asli pabrikan Indonesia, jadi gak connectlah ama jiwa si bule. Si Bule nunjuk ke arah lap di atas meja (artinya ngambil lap) dan nunjuk tangannya sendiri (artinya kasih dia, si bule) dan nunjuk jam tangannya (artinya agak rancu, apakah maksudnya gue musti cepat - cepat atau dia mau nunjukin kalau jam tangannya mahal). But still, gue bingung yang dia tunjuk itu apa. Karena di atas meja ada 2 benda, pulpen dan lap, jadilah gue terjebak nostalgia, eh maksudnya terjebak oleh kebingungan gue sendiri. Karena kelamaan mikir, si boss bule ini berdiri dari kursinya dan ngambil lap itu. Dia liat mata gue dan bilang,
Si Bule, ' Next time you do this to me again, I will Wipe your Ass. Dont be slow like a mama boy, remember you .......... *Grook kluukllukulkulkku* (Penyakit suara babi-keselek-knalpot-racing si bule kambuh lagi) '
Gue, *melotot* *senyum* *ngagguk - ngagguk* *pura - pura ngerti* *Ngangkat jempol* *senyum lagi*
Si Bule, *kerasukan siluman Kanguru*
Mood di kitchen benar - benar berubah, namun dengan begonya gue malah senyum - senyum dan gak ngerti sebenarnya apa yang terjadi. Gue cuma tau satu hal yang kurang dari gue, yaitu speed gue. Gue musti bergerak lebih cepat, bergerak lebih lincah, dan bergerak lebih indah (lhaaa ini mah senam poco - poco).
Tapi lama - kelamaan gue makin ngerti dan menyatu dengan teman - teman kerja gue. Gue merasa Inggris gue juga berangsur improve. Gue ama teman - teman gue chemistrynya udah dapat, iya biologinya juga *Ba Dum Tss*. At least 1 vocab udah nambah lah, dulu gue gak tau bahasa Inggrisnya lap, sekarang gue udah tau, clothes. Gue juga bersyukur dengan adanya Part-time job ini, gue jadi tau betapa susahnya melakukan suatu 'pekerjaan' yang gue gak pernah lakuin waktu gue di Indo. Pekerjaan yang gue anggap remeh seperti nyapu, ngepel, masak - masak, itulah yang menghidupi gue di Australia. Semakin hari gue makin menghargi orang - orang. Pekerjaan sapu - sapu jalanan itu tidak lebih hina dari pekerjaan kantoran. Kebayang gak kalo mereka gak ada di jalanan, bisa - bisa kota kita jadi kotor dan berantakan. Masih ada tukang sapu jalanan aja masih kotor, gimana kalau mereka gak ada, mungkin Indonesia udah jadi negara kumuh.
Dan gue sadar akan suatu hal bahwa
..
Part-time job. Definisi part-time job menurut kamus gue adalah suatu pekerjaan yang setengah - setengah dan maksa banget. Mau dibilang susah, tapi gak terlalu susah; capek, juga gak terlalu capek. Tapi kadang gue capek ampe kebangetan dan merasa bahwa gue gak maksimal di tempat kerja. Tapi uang yang dihasilkan sih lumayan, lumayan meringankan beban orang tua gue.
Gue bekerja di salah satu restoran terkemuka di Australia dan bahkan dunia. Restoran ini memiliki ratusan cabang di seluruh Australia dan mungkin mencapai ratusan ribu di seluruh dunia. Bahkan restoran ini juga sudah membuka beberapa cabang di Indonesia. Hebat bukan !!!, Iya, gue kerja di McDonald... *DanSejenakTerdiam*.
Sebenarnya tujuan gue melakukan part-time job adalah semata - mata untuk memenuhi kepuasaan badani gue (okay, that's sounds so wrong), dalam hal ini makanan. Asal lu tau aja yah, harga secangkir kopi disini sekitar $3.50, kalo di convert ke rupiah harganya itu 30.000 rupiah. Di Indonesia 30 ribu mungkin gue udah bisa makan siang + cemilan pisang molen atau tahu isi. Lah disini hanya seharga kopi small size... Gila!!!! Bisa - bisa gue mati kelaparan !!!. Gue bukan tipikal orang yang pelit, hanya saja perbandingan harga yang besar membuat gue berpikir sepuluh kali hanya untuk membeli secangkir kopi. Gimana gue mau beli makanan yang lain, bisa - bisa gue kena busung lapar dulu baru beli makanan (kebayang gak seorang Oby busung lapar). Awalnya gue ragu, karena gue sama sekali gak ada pengalaman untuk kerja kasar gini. Selama gue di Indo, istilah kasarnya dah, sampe - sampe celana dalam gue juga pembantu yang cuciin. Dan sekarang gue pengen kerja ngangkat - ngangkat bahan makanan, masak, nyapu, ngepel, muastahail !!! Tapi demi hidup di Australia, gue rela melakukan pekerjaan itu.
Gue ingat hari pertama kerja, gue dimarahin habis - habisan. Gerakan gue super lambat membuat semua pesanan yang datang terbengkalai. Kalau diibaratkan gerakan gue itu sama seperti video slow motion super selow di youtube dan diakses pake modem yang bentar lagi koutanya abis. Gimana gue gak selow, pertama bahasa Inggris mereka pakai Aussie accent, which is gue (yang pada saat itu) kagak ngerti (sekarang aja masih samar - samar).
Jadi waktu itu keadaannya lagi rame dan sibuk buanget membuat kitchen benar - benar berantakan. Dan disaat yang tidak tepat, gue disuruh ama bos, yang notabene adalah bule untuk ngambil lap di atas sebuah meja. Namun karena telinga gue made in Indonesia, terjadilah kejadian yang koplak ini,
Si Bule: 'Oby could you please'........ *grookkk klukklulkllulkul* (selebihnya terdengar seperti suara babi keselek knalpot racing, gak jelas man)
Gue: Pardon me?
Si Bule : 'Could you please bring me Clotzzz* '..... *Grook klululululklk* (udah mendingan tapi tetep gak jelas)
Gue, 'What? Closet?, do u mean u need to go to the toilet?, kloset? pee place pee place'
Si Bule: *Keluarin Bumerang*
*NB:Lap = Clothes
Gak tau apa karena si bule udah gondok ngejelasin gue pake kata - kata, dia mulai pakai bahasa nunjuk - nunjuk. Iya bahasa yang hanya mengandalkan kemampuan imajinasi orang yang ditunjuk. Dalam kasus ini orang yang ditunjuk itu adalah gue. Sekali lagi tubuh gue ini asli pabrikan Indonesia, jadi gak connectlah ama jiwa si bule. Si Bule nunjuk ke arah lap di atas meja (artinya ngambil lap) dan nunjuk tangannya sendiri (artinya kasih dia, si bule) dan nunjuk jam tangannya (artinya agak rancu, apakah maksudnya gue musti cepat - cepat atau dia mau nunjukin kalau jam tangannya mahal). But still, gue bingung yang dia tunjuk itu apa. Karena di atas meja ada 2 benda, pulpen dan lap, jadilah gue terjebak nostalgia, eh maksudnya terjebak oleh kebingungan gue sendiri. Karena kelamaan mikir, si boss bule ini berdiri dari kursinya dan ngambil lap itu. Dia liat mata gue dan bilang,
Si Bule, ' Next time you do this to me again, I will Wipe your Ass. Dont be slow like a mama boy, remember you .......... *Grook kluukllukulkulkku* (Penyakit suara babi-keselek-knalpot-racing si bule kambuh lagi) '
Gue, *melotot* *senyum* *ngagguk - ngagguk* *pura - pura ngerti* *Ngangkat jempol* *senyum lagi*
Si Bule, *kerasukan siluman Kanguru*
Mood di kitchen benar - benar berubah, namun dengan begonya gue malah senyum - senyum dan gak ngerti sebenarnya apa yang terjadi. Gue cuma tau satu hal yang kurang dari gue, yaitu speed gue. Gue musti bergerak lebih cepat, bergerak lebih lincah, dan bergerak lebih indah (lhaaa ini mah senam poco - poco).
Tapi lama - kelamaan gue makin ngerti dan menyatu dengan teman - teman kerja gue. Gue merasa Inggris gue juga berangsur improve. Gue ama teman - teman gue chemistrynya udah dapat, iya biologinya juga *Ba Dum Tss*. At least 1 vocab udah nambah lah, dulu gue gak tau bahasa Inggrisnya lap, sekarang gue udah tau, clothes. Gue juga bersyukur dengan adanya Part-time job ini, gue jadi tau betapa susahnya melakukan suatu 'pekerjaan' yang gue gak pernah lakuin waktu gue di Indo. Pekerjaan yang gue anggap remeh seperti nyapu, ngepel, masak - masak, itulah yang menghidupi gue di Australia. Semakin hari gue makin menghargi orang - orang. Pekerjaan sapu - sapu jalanan itu tidak lebih hina dari pekerjaan kantoran. Kebayang gak kalo mereka gak ada di jalanan, bisa - bisa kota kita jadi kotor dan berantakan. Masih ada tukang sapu jalanan aja masih kotor, gimana kalau mereka gak ada, mungkin Indonesia udah jadi negara kumuh.
Dan gue sadar akan suatu hal bahwa
Selalu ceria, selalu semangat, tetap menjadi manusia yang berbahagia
That's all for today, thanks for reading this entry
Stay tune on Guritantintacumi.blogspot.com
See you next entry
.jpg)
Comments
Naitu garing krenyes , chemistry-biologi.
Aduh ngakak.......
(y)
I feel you, mate hahaha
tapi kocak cara nyeritainnya. mantap jiwa!